#47 PPn untuk Toko Online? (Part 2)


Besarnya transaksi toko online di Indonesia, yang kabarnya mencapai 1.100 sampai 1.200 Trilliun Rupiah di 2025, mulai dilirik orang pajak.

Pemerintah mungkin masih menimbang-nimbang untuk memajaki transaksi di eCommerce karena melihat ini industri yang terbilang masih baru dan masih belum stabil.

Tapi sekarang kayanya mulai goyah juga mengingat transaksinya sudah sangat besar, sekitar 4-5% dari PDB.

Pada setuju ga sih kalau transaksi di eCommerce dipajakin?

Atau malah bikin makin berat karena biaya adminnya aja udah tinggi banget?

Halo, saya Willy Pujo Hidayat dan Anda sedang mendengarkan Commercesation Podcast, sebuah podcast tentang eCommerce.


Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan, Pak Purbaya sempet ditanya oleh wartawan terkait rencana pemerintah untuk memajaki transaksi ecommerce, termasuk di marketplace.

Jawabannya sih terdengar cukup realistis ya, kata beliau kurang lebih begini :

“Sebenarnya Dirjen Pajak sudah punya rencana untuk mengenakan pajak pada online transaction kan. Tapi waktu itu ekonomi masih agak terganggu, jadi kita belum melaksanakannya. Tapi nanti, sekarang udah lumayan nih”

DetikFinance

Jadi memang sebelumnya, udah lama banget malah, sekitar tahun 2018-2019, itu ada rencana transaksi di online marketplace, akan kena pajak PPn (dulu masih 10%), tapi akhirnya ga jadi.

Saya sempet buat episode podcast khusus pas ada wacana penarikan PPn tuh.

Menurut saya waktu itu kurang tepat karena ini adalah industri yang harusnya malah distimulasi, diberikan keringanan, supaya semua orang masuk dulu ke market kan.

Sempet buat aturannya, terus geger kan, eh ga lama, dicabut, terus belum ada udpate lagi tuh.

Baru kemarin tuh Pak Purbaya bilang katanya mau dipajakin lagi, kira kira di Q2 2026.

Pajak apa sih?

“Kalau dipajakin berarti kita beli barang di marketplace kena pajak ya wil?”

Bener. Setiap transaksi di marketplace akan dikenakan pajak yang berlaku saat ini, yaitu PPn 12%.

“Lebih mahal dong wil?”

Tergantung, itu pajak mau di-charge ke customer, atau dibebankan ke penjual.

Kalau ke pembeli, ya tentunya akan lebih mahal 12%, kalau dibebankan ke penjual, ya tentunya akan menggerus margin.

Udahlah potongan marketplace 25%, ditambah potongan 12% PPn kan? Muter doang itu duit.

Uniknya lagi (uniknya?) bukan cuma PPn doang temen-temen, tapi juga ada PPh 22.

“Apaan tuh wil PPh 22?”

Itu pajak yang harus teman teman bayarkan kalau omset setahun lebih dari 500 juta.

OMSET ya itu, bukan Laba.

Udah kaya upeti jaman VOC ya.

Jadi, kalau nanti pemungutan pajak udah berlaku nih, toko temen temen harus lapor 2 jenis pajak yaitu PPn dan PPh.

PPn itu 12 persen untuk setiap transaksi berhasil (biasanya dilihat dari invoice).

Kemudian diliat nih, wah setahun setelah direkap, omsetnya ada 1M, berarti temen temen harus bayar pajak lagi, kalau untuk eCommerce ini kalo ga salah di 0,5-1%.

Gimana? ngerasa ga sanggup? udah merasa pemerintah zolim belum?

Manfaat Pajak

Kalau diinget-inget ya, kita itu hampir setiap uang keluar itu bayar pajak loh.

Nih temen temen keluar rumah pake kendaraan, setiap tahun bayar pajak.

Terus beli bensin, itu kalo temen temen minta struknya, itu ada PPn-nya.

Haus, ke Indomaret beli minum, coba cek struknya, ada PPn-nya juga.

Laper, makan ke resto, ada pajaknya juga

Atau, yang lebih unik lagi, temen temen terima gaji? itu juga dipotong pajak, namanya PPh21.

Jadi setiap aktifitas kita itu, temen temen bayar pajak sebenernya.

Pajak kita dikumpulkan sama yang namanya Dirjen Pajak, Dirjen Pajak setor ke negara, masuk ke kas, nah dari kas, diputer lagi, buat gaji PNS, buat stimulus ekonomi, termasuk buat MBG.

— Ini episode gawat ini, banyak senggolan-senggolannya.

Atau pajak kita juga dipake buat BPJS misalnya, atau bantuan untuk subsidi rakyat miskin, atau buat pendidikan, riset, dsb.

Jadi sebetulnya, kalau rakyatnya tertib bayar pajak, kemudian pengelolanya berintegritas, tidak dikorupsi, maka ribuan trilliun uang rakyat itu sangat bisa berdampak untuk kesejahteraan negara.

KALOOOO dikelola dengan baik, integritas dan prudent atau hati hati, bijaksana.

Ada syarat dan ketentuannya ini mah.

Pajak untuk eCommerce

Sejujurnya ya, di kami, di kantor, walaupun kami eCommerce, itu kami tetap berlakukan PPn untuk setiap transaksi.

“Ya Anda kan B2B wil, pasti PPn Lah”

Ga juga, akhirnya yang customer kita yang pribadi juga mau ga mau ikutan.

Bahkan pernah beberapa yang beli itu ga punya NPWP, akhirnya pake skema digunggung namanya, jadi dikumpulin jadi satu baru dilaporin pajaknya.

Dan ya, kalau kata Pak Purbaya biar ada keadilan atau fairness, atau kompetisi yang sehat antara online dan offline, mengenakan pajak untuk eCommerce menurut saya cukup masuk akal.

Supaya ga “kabur” saat transaksi untuk menghindari pajak.

Ada tuh customer yang “mas, bisa ga pake marketplace aja, biar ga kena pajak?”

Ya karena hampir semuanya tau gitu kalau di online marketplace, ga pake pajak.

Kalau saya cek regulasi di beberapa negara, emang hampir semuanya udah memungut pajak dari setiap transaksi eCommerce.

Dan sebenernya selama ini si platform: Tokopedia, Lazada, Shopee itu udah memungut pajak kok dari transaksi temen temen.

Waktu dulu kami buka “cabang” di marketplace, saat marketplace memotong biaya layanan, itu saya bisa minta Faktur Pajaknya kok, yang artinya mereka juga menyetorkan pajak transaksi kita.

Cuma ya hanya yang dihitung sebagai penghasilan platform, bukan dari seller.

Naahh kalo jadi nih dipajakin, bisa jadi secara sistem akan ada penyesuaian, dan ya, bisa jadi platform akan men-charge PPn untuk setiap transaksi ke pembeli.

“Lah sepi dong wil kalo dipajakin? mending ke toko langsung? bayar cash?”

Ya itu makanya tadi kata Pak Purbaya kan, liat dulu situasi dan kondisinya, udah siap atau belum.

Jangan sampe transaksi jadi turun karena pembeli pada keberatan bayar lebihan 12% dari setiap transaksi.

Kalo belinya cuma 10-20rb sih mungkin ga terlalu terasa, lah kalo 1 juta? lumayan kan.

Sebaiknya Gimana?

Dengan menimbang asas keadilan, sebetulnya dipajakin sih ya oke aja, cuma mungkin bisa ditambah regulasinya.

Yaaa terlepas dari tingkat korupsi dan ketidak-hati-hatian dalam penyelenggaraan anggaran belakangan ini, atas asas keadilan dan pemerataan kesejahteraan, pemajakan ecommerce sih ga masalah asaalll.

Berarti nantinya yang dikenakan pajak yaitu PPn untuk setiap transaksi sebesar 12%, dan PPh22 sebesar 0,5% untuk penjual dengan omset di atas 500 juta.

PPn dibebankan ke pembeli, dan PPh dibebankan ke penjual, ya, untuk saat ini cukup adil.

Tinggal PPn nih, kayanya 12% masih cukup tinggi, bisa ga ya diadain insentif atau diskon pajak, misalnya selama setahun dikasih voucher diskon pajak 50% sebanyak 12x.

(Walaupun sepengelaman saya sih ga bisa, kita bayar dulu full, baru nanti dibalikin, itupun kalo udah di-audit wkwkwk)

Alternatif solusinya bisa juga dibuat kategori, jadi misalnya hanya untuk produk elektronik gitu misalnya atau yang nilainya di atas 5 juta baru kena PPn.

Atau di atas nilai rata rata pembelian online, misal angkanya 2 juta, berarti di atas 2 juta baru kena PPn.

Karena kalau enggak, kayanya bisa cukup telak memukul para pembeli online ya.

Jangankan ada tambahan PPn, kita aja carinya yang gratis ongkir, biar ga bayar ongkir.

Kalo bisa ada diskon + gratis ongkir, nah tuh, ini malah ditambah pajak, ya bisa pada mundur.

Jadi..

Pemerintah mungkin bisa lebih bijaksana dalam menilai atau menentukan kapan sebaiknya mulai penarikan pajak untuk eCommerce.

Kalaupun jadi, tolong regulasinya jangan yang langsung memberatkan, karena industri ini, menurut saya, masih harus didukung penuh, banyak sekali orang bergantung pada industri ini.

Apalagi kita minim perlindungan, baik konsumen maupun penjual, kita semua rentan, rentan kena tipu, rentan kena dampak regulasi platforn, persaingan yang tidak seimbang, berat sih, kalau lagi berat terus dipukul lagi pake pajak, kayanya langsung pada milih buka warung seblak deh.

Jadi, tolong dipertimbangkan kembali.

Dan untuk para pebisnis eCommerce, ini udah kaya keniscayaan, udah 2x wacana, mungkin kedepannya akan beneran diterapkan, jadi tolong bersiap-siap dengan segala kemungkinan.

Itu aja episode hari ini, jangan lupa bagikan episode ini sekiranya menurut teman teman bermanfaat.

Sampai jumpa di episode selanjutnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Scroll to Top