Momen yang paling memakan waktu di toko berbelanja modern adalah pada saat checkout atau melakukan pembayaran.
Kita harus antre untuk item yang mungkin cuma sebotol air—Ambil produknya cepet, ga pake mikir, tapi pas mau bayar udah kebayang antriannya yang panjang.
Nah Decathlon mencoba pendekatan lain, mereka “memaksa” kita untuk melakukan pembayaran sendiri, lebih cepat, praktis dan tentunya tanpa petugas kasir.
Kenapa dan bagaimana mereka melakukannya?
Halo, saya Willy Pujo Hidayat dan Anda sedang mendengarkan Commercesation, sebuah podcast tentang eCommerce.
Mungkin temen temen pernah ya, ke Indomaret atau minimarket modern pinggir jalan cuma buat beli minuman dingin atau snack buat perjalanan.
Di kendaraan itu pasti udah mikir, mau beli minuman A, sama snacks B, C, D, dst.
Jadi prosesnya mungkin ga begitu lama.
Sampai akhirnya kita harus membayar, dan berhadapan dengan kasir satu per satu atau one-to-one, apalagi kalau lagi rame.
Nah, kebayang deh tuh pasti antrinya sepanjang apa, dan ya memang hal tersebut yang paling memakan waktu.
Proses checkout memang selalu menjadi bottle neck dari keseluruhan proses berbelanja.
Ga Jadi Beli
Ternyata itu bukan persaan kita doang, melainkan emang ada datanya.
Jadi menurut data dari website Leverage, di tahun 2025, ada 61% orang di Amerika yang pergi meninggalkan toko alias ga jadi beli karena antrian yang panjang.
Ibaratnya kalau ada 100 orang yang masuk ke toko, 60 orang akan langsung pergi gitu aja karena antriannya panjang.
Bahkan ada juga data yang bilang kalau loss atau kehilangan yang terjadi akibat antrian panjang itu nilainya bisa sampe 38 Miliar USD, atau setara IDR 645 Trilliun.
GIla ya?
Nah makanya beberapa perusahaan retail besar itu mengembangkan metode yang namanya self checkout atau bayar mandiri.
Self Checkout
Melihat besarnya nilai loss atau kehilangan yang terjadi akibat antrian yang panjang ini, beberapa perusahaan besar seperti Target atau Walmart itu berinovasi.
Mereka mengembangkan sistem yang namanya Self Checkout atau bayar sendiri.
Tanpa kasir, tanpa ada yang masukin ke kantong belanja, semuanya dilakukan sendiri.
Jadi temen temen bayangin, misalnya kita belanja ke minimarket gitu, ambil barang, terus pas udah siap bayar temen temen tinggal ke satu meja yang udah ada infrared-nya.
Jadi tinggal scan aja barcode-nya dan bayar sendiri pake kartu atau QRIS misalnya, dan beres, langsung bisa dibawa.
Praktis banget, kan?
Datanya di Walmart di China, itu bahkan mengalami peningkatan sales sampai 10% karena customer yang tidak perlu lagi antri ini.
Mereka merasa lebih cepat dan praktis untuk melakukan self checkout.
Problemnya
“Wil, kalo kita scan sendiri, bisa aja curang dong, dari 3 item cuma 2 item yang kita scan, yang 1 kita umpetin aja”
ya bisa aja, namanya orang mau iseng mah.
Tapi ya bener, itu ternyata malah jadi masalah baru, karena pada akhirnya ga semua orang itu “lihai” dalam mengadopsi teknologi baru.
Ada yang karena susah ga ke-scan-scan juga kan? mereka akhirnya bodo amat dan dibawa aja tuh barang tanpa dihitung.
Bahkan tahun 2023, Target melaporkan kehilangan senilai kurang lebih USD500 juta atau sekitar IDR 8 Triliun.
yang dipastikan “bocor” karena mereka yang (sengajat maupun tidak sengaja) tidak scan barang saat melakukan self checkout.
Nah akhirnya ada pendekatan baru, self checkout tapi ga pake scan bacode, melainkan pakai RFID.
Scan RFID
Kelemahan dari scan barcode saat self checkout itu adalah keterbatasan sensor untuk mendeteksi kalau barang itu nyelip di barang belanjaan lainnya atau tidak.
Karena posisi barcode harus sejajar dengan infrared, baru bunyi ‘tiit’.
Nah kalau barang itu kita masukin aja ke baju misalnya, selain dari CCTV maka sensor yang ada di pintu itu bisa missed alias ga bunyi.
Akhirnya ada pendekatan baru, yaitu dengan menggunakan teknologi yang namanya RFID atau Radio Frequency Identification.
Kalau scan barcode perlu barcode yang ada di produk untuk di-scan di infrared, kalau RFID ini perlu Tag atau seperti alat khusus yang ditempel di produk, biasanya disebut Tag.
Kemudahannya adalah jadi tag-nya ga perlu sejajar sama sensor, selagi masih dalam radius tertentu, sinyalnya bakal mendeteksi kalau item ini sudah dibayar atau belum.
Naah ini yang akhirnya menjadi solusi yang win-win untuk semua pihak.
Pemilik bisnis ga perlu khawatir barangnya dicuri karena sensor pasti bunyi kalau customer nakal, dan customer juga ga perlu kesulitan melakukan scan barcode.
Akhirnya kebanyakan pebisnis retail menerapkan hal ini dan beberapa bahkan memadukannya dengan CCTV dan AI, termasuk Decathlon.
Self Checkout Decathlon
Kalau temen temen yang rutin ke Decathlon untuk beli peralatan olahraga, pasti notice hal ini.
“Kasirnya kemana ini? ada mejanya doang?!”
Kemudian di sebelahnya ada layar gede 2 unit sama mesin EDC untuk payment.
Sejujurnya saya ga asing dengan self checkout seperti ini, bukan karena saya pernah keluar negeri kaya ke Walmart atau Target di US, tapi di Gramedia Matraman.
Saya kaget ternyata *payment-*nya gampang banget, bukunya tinggal dicemplungin ke wadah yang tersedia, terus di layar langsung muncul buku atau item apa aja.
Langsung ada totalnya, bahkan kalo ga salah tanpa harus satu persatu ditaro, langsung terbaca oleh sistem.
Terus konfirmasi, dan bayar deh, apalagi kalau pake QRIS, bener bener cepet dan ga ngeluarin dompet sama sekali.
Nah ternyata Decathlon juga menerapkan hal yang sama, dan sama cukup Amaze.
Jadi barang barang yang mau kita bayar setelah pilih pilih di Decathlon, tinggal kita cemplungin di wadah yang udah disediakan, bayar, beres.
Selain memudahkan dan praktis banget, ada hal lain yang menarik di sini.
“Dipaksa” Online
Selain proses bayar-membayar, self-checkout ini sangat bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan customer loyalty.
Mengingat proses ini online alias terhubung ke internet, jadi si pemilik bisnis ini bisa memaksimalkan proses checkout untuk menghubungkan ke akun si pembeli.
Kaya Decathlon ini, ada poin saat ini sign-in pake akun email kita, dan poin itu ada nilainya dan bisa digunakan sebagai diskon.
Lumayan kan ya?
Akhirnya kita merasa “sayang” kalau ga login dan bahkan terdorong untuk bikin akun dan mengumpulkan poin, kan?
Karena dari poin itu bisa dijadiin diskon.
Seru ya?
Jadi experience-nya menyeluruh, beli barangnya offline, bisa kita pegang, kita fitting, kita rasain barangnya, dan pembayarannya online, terhubung ke akun kita.
Literally mixed-channel ya: Brick and mortar + Online store.
Dan tau kan? dari data yang saling terhubung itu apa aja yang bisa kita dapatkan?
Wah banyak banget, mulai dari behaviour pelanggan, most sold product, average order value, bahkan bisa tau domisili karena ada IP address saat kita buka membershipnya di email.
Gila ya?
Semakin tidak ada batas antara Offline dan Online.
Dan strategi Decathlon ini bisa banget ditiru dan diimplementasikan ke bisnis kamu yang juga hybrid: Offline dan Online.
Jadi..
Udah ga ada lagi pertanyaan :
“Mending buka toko offline atau online ya?”
Udah, kalau masih ada pikiran kaya gitu, Anda mungkin seharusnya udah jadi PNS aja.
Sekarang udah bisa Hybrid atau Mixed Channel antara brick and mortar store dengan online store.
Self checkout tidak hanya menjadi solusi mengatasi panjangnya antrian checkout, tapi juga bisa terhubung dengan customer loyalty secara online.
Seru ya?
Terima kasih sudah mendengarkan episode ini.
Jangan sungkan untuk membagikan episode ini sekiranya menurut Anda bermanfaat.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Wassalamualaikum.
