#48 Sociolla: Tetap Cuan di tengah Gempuran Marketplace

Fokus kita kalo belanja online mungkin hanya seputaran marketplace aja, apalagi hair-care, skin-care, body-care, biasanya ga jauh jauh dari Shopee.

Padahal ada juga Sociolla yang menawarkan pengalaman belanja yang menarik dan produk yang terkurasi.

Emang ada yang beli di Sociolla?

Seberapa worh-it untuk belanja di Sociolla dibanding marketplace?

Halo, saya Willy Pujo Hidayat dan Anda sedang mendengarkan Commercesation Podcast, sebuah Podcast tentang eCommerce.


Disclaimer dulu, episode ini tidak di endorse oleh Sociolla, ini adalah murni karena memang saya pengguna dan saya nilai Sociolla ini menarik untuk dibahas.

Fokus kita selama ini kalo belanja memang bisa dipastikan ke marketplace: ya Tokopedia, ya Shopee, Lazada aja kurang kayanya, apalagi Blibli yang notabene adalah high-ticket seller.

Padahal ada sebuah brand toko online yang sudah eksis sejak belasan tahun lalu, punya standard pelayanan yang baik, terkurasi (ini yang penting), serta harga yang menurut saya cukup bersaing, khususnya di segmen woman’s care.

(Mungkin memang dominasinya perempuan ya, jadi kalo saya beli di situ, saya dianggep mau terlihat cantik juga)

Malah sekarang mereka udah mulai mengembangkan omni-channel melalui, kayanya sih experience center, offline, yang banyak kita temukan di mall-mall.

Siapa sih Sociolla?

Ini kalo saya kutip dari beberapa referensi yang sangat mudah ditemukan di Internet ya.

Sociolla ini merupakan bisnis B2C dari perusahaan yang namanya PT Social Bella Indonesia.

Mereka ini didirikan di Maret 2015, podcast ini direkam di Mei 2026, sehingga total udah 11 tahun. Gokil.

— Sebagai perusahaan internet, bisa sustain selama ini tentu bukan perkara mudah ya.

Awal kemunculannya, yaitu ingin memberikan “Rasa Aman” kepada para masyarakat dengan menyajikan HANYA produk produk yang lulus sertifikasi BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

Kita tau internet ini mungkin minim sekali pengawasan ya, jadi barang apa aja bisa masuk, termasuk barang yang, mohon maaf, mungkin abal abal, produksinya ga tau gimana, standar higiene-nya bagaimana, bahkan tidak lulus BPOM sehingga berpotensi bahaya bagi pengguna, dsb.

Nah Sociolla serius menanggapi hal ini, sehingga produk yang mereka jual itu terkurasi, hanya yang memiliki sertifikat BPOM saja yang mereka sediakan.

— Ini postingannya kaya paid promote banget ya ? Sociolla tau nomor rekening saya kan?

Nah kenapa episode ini mengangkat tema tentang Sociolla.

Karena secara model bisnis dan inovasinya, sangat bisa digunakan atau ditiru oleh brand brand besar atau pedagang kecil yang ingin keluar dari Marketplace.

Kenapa? Begini.

Model Bisnis Sociolla

Kalo kita ngomongin model bisnis, Sociolla itu bukan seperti marketplace yang C2C atau Customer to Customer atau end-to-end.

Kalau online marketplace kan semua orang bisa jualan, semua orang bisa beli, ya kan?

Kalau Sociolla ini beda, model bisnisnya itu B2C atau Business-to-Customer.

Jadi entitasnya yaitu bisnis, PT Social Bella, menjual ke customer yang notabene adalah end user seperti saya, Anda, dan jutaan pembelinya.

Jadi Sociolla bekerja sama dengan brand: brand supply barang ke mereka, barang masuk ke warehouse Sociolla, kemudian mereka dapet order dari customer, dan barang dikirim dari warehouse.

Jadi B2C, business to customer, mirip mirip dengan BLIBLI yang ada B2C-nya juga.

Dan pastinya berbeda dengan marketplace.

Nah, apa kelebihannya?

Yang tadi saya sampaikan di awal, karena mereka punya barangnya, mereka jadi bisa selektif memilih brand, jadi produk yang mereka jual adalah produk yang sudah terkurasi, mereka ngecek dulu itu produk udah ada BPOM nya apa enggak, dsb.

Kebayang ya?

“Mirip apotik atau warung gitu dong wil?”

Iya. Emang begitu konsepnya.

Mereka dapet keuntungannya dari mana?

Ini mah asumsi ya, kemungkinan besar mereka mendapatkan margin dari :

  • Markup harga retail: misalnya brand kasih diskon 20%, nah itu margin mereka.
  • Bisa juga dari kerjasama brand, dengan database sekuat itu, mereka bisa jadi corong masuk untuk brand brand besar.
  • dsb

Ini yang mungkin membuat harga di websitenya bisa jauh lebih murah, dan bahkan bisa kasih diskon kalau kita belanja langsung di websitenya, karena tadi, mereka punya keleluasaan untuk mengatur margin.

Kenapa ini layak ditiru?

Ya, terlepas dari pendanaan yang mereka terima ya, ada dari East Ventures, Temasek, General Atlantic, dsb yang nilainya sampe $250 Juta dolar atau sekitar 4,4 Trilliun (dolar 17.600), model bisnisnya ini sangat layak untuk kita duplikasi.

Buat temen temen yang udah kepikiran untuk keluar dari marketplace, ini bisa dijadikan referensi.

Jadi kalo temen temen mau main dua kaki dari marketplace ke website sendiri, coba pertimbangkan beberapa hal ini dari Sociolla.

1— Niche. Temen temen tentukan mau fokus di mana, Sociolla mau fokus ke produk woman’s care yang hanya tersertifikasi BPOM.

Temen temen juga perlu tentukan, fokusnya di mana, ga bisa lagi pake PALUGADA ya (apa lu mau gua ada), ga bisa, harus tentukan niche.

Mau fashion sport aja, mau fashion formal pria, mau sepatu kulit, dsb. Fokus.

2— Branding. Fokus menanamkan ke pikiran pelanggan maupun calon pelanggan kalau kita adalah top of mind untuk produk produk di kategori tertentu.

Dengan kelebihan ini itu, produk kita ada garansi, ga ada defect, tuker kalo rusak, dsb. itu yang di-highlight.

Bahkan Sociolla itu punya kardus khusus dari mereka loh, lakbannya khas banget, saya sampe susah bukanya. Saking secure-nya.

Kita pegang kepercayaan mereka, mereka bisa transfer dengan aman tanpa ragu, staf support yang bisa dihubungi, kecepatan pengiriman, dsb.

3 — Think Long Term. kita dorong sebanyak mungkin orang untuk checkout di website.

Kita main dua kaki ga apa apa, awalnya beli dari tempat lain seperti marketplace, tapi kita belokkan mereka supaya beli di website kita.

Saya ada bahas di Episode ke 36 terkait cara brand tas “membelokkan” pelanggannya.

intinya kita berikan keuntungan lebih kalau beli langsung di website dibanding di tempat lain, entah harganya yang lebih murah, ada tambahan garansi, ada bonus apa, dsb.

Kenapa long term? karena memang ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sabar, dibangun bisnisnya.

4 — Loyalty. Sociolla punya poin yang bisa ditukarkan, jadi pelanggannya terikat, mereka terdorong untuk belanja lagi, dsb.

Pada level yang lebih lagi, bisa kita buat gamifikasi, tapi ntar dulu. fokus ke poin aja udah cukup.

BIsa ga ditiru kira kira?

Bisa lah ya, cuma, ya, perlu sedikit tambahan sumber daya seperti modal untuk buat website dan pendukungnya.

Apakah akan ada “Sociolla” lain?

Belakangan ini saya liat banyak banget brand yang mengumumkan untuk keluar dari marketplace, dan mendorong customernya untuk beli di WhatsApp official mereka, atau mereka membangun toko online-nya sendiri.

Menurut saya ini titik balik, ini momen yang bagus sekali.

Brand-brand ini mau mandiri dan leluasa mengatur cashflow bisnisnya sehingga bisa memberikan lebih ke pelanggannya.

Bagus banget.

Nah sebetulnya, Anda atau siapapun bisa melihat ini sebagai peluang.

Karena Brand brand tersebut artinya butuh channel lain untuk berjualan.

Begini: mereka memutuskan untuk keluar dari marketplace, dan memilih untuk membangun sendiri toko onlinenya, bayangin berapa kehilangan saat fase transisi ini atau hiccups ya karena ada transisi?

Banyak banget dong, dan akuisisi channel baru itu tidak mudah.

Anda bisa membangun “Sociolla” baru untuk menampung brand brand tersebut dengan skema kerjasama B2C sebagaimana yang Sociolla lakukan.

Misal mau fokus ke “Sociolla” untuk parfum pria, bikin lah websitenya, atur kerjasama dengan brand brand tadi, omongin diskon, mekanisme fulfillment-nya bagaimana, dsb.

Jadi misalnya Anda buat website namanya “male-scent” misalnya yang fokus menjual parfum pria, dari parfum buat olahraga, buat ngantor, nge-date, sampe haji misalnya. komplit.

Anda kerja sama dengan brand brand lokal misalnya : HMNS, KAHF, SAFF&CO, dsb.

Minta diskonnya yang baik, skema kerjasamanya, ada MoQ (Minimum order) dsb.

Iklanin.

Dijamin, jadi itu barang.

Win-win lah ini, Anda dapet margin, brand lokal dapet penjualan dan skema kerjasama yang bisa dinegosiasikan, ga satu arah kaya marketplace, kan?

Jadi..

Terlepas dari kekuatan modal, apa yang dilakukan oleh Sociolla untuk bergeming melawan gempuran dominasi marketplace itu memang patut diacungi jempol.

Kekurangan dari model bisnis ini adalah margin-nya yang mungkin agak low, jadi volume adalah kunci.

Margin boleh 10-15%, tapi kalo penjualannya sampe 1M sebulan, berarti 100-150 juta sebulan gross-nya, kan?

Apalagi kalau misalnya temen temen punya bargain power yang baik, kemampuan negosiasi yang baik, bisa dapet diskon 25-30% per produk dari brand kan? lumayan banget.

Jadi intinya apa yang dilakukan oleh Sociolla ini sangat bisa diduplikasi oleh siapapun, baik itu pemilik brand, atau Dealer yang sama sama saling dukung, saling memberikan keuntungan bagi semua pihak, ga satu pihak aja.

OK?

Itu aja episode hari ini, jangan lupa share episode ini sekiranya menurut teman teman bermanfaat.

Terima kasih sampai jumpa di episode selanjutnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Scroll to Top