#49 Sama-sama Marketplace, kenapa Blibli lebih cuan?


Kedua ecommerce kakap ini udah buka data report 1Q26 dan hasilnya menarik, net revenue dari Tokopedia cuma sekitar 10% dari BLIBLI.

Tokopedia mendapatkan net revenue di IDR288 Miliar sedangkan BLIBLI di IDR2,6 Trilliun. Kok bisa?

Halo, saya Willy Pujo Hidayat dan Anda sedang mendengarkan Commercesation Podcast, sebuah podcast tentang eCommerce.


Satu semester atau first half sudah terlalui di 2026, dan laporan keuangan 1Q dari Tokopedia dan BLIBLI sudah rilis ke publik.

Saya coba baca dan hasilnya cukup menarik ya, walaupun sama sama eCommerce tapi net revenue atau pendapatan bersih keduanya bisa timpang sekali perbedaannya.

Dilansir dari financial report PT Global Digital Niaga, dari segmen Retail Online, BLIBLI mencetak pendapatan bersih sebesar IDR2,6 Trilliun.

Sedangkan Tokopedia, dilansir dari halaman financial report PT Goto Gojek Tokopedia, mencetak pendapatan bersih sebesar IDR288 Miliar.

Beda banget ya satuannya? yang satunya Trilliun, yang satunya Miliar, selisih 3 nol-nya.

Dan kalau dibuat rasio, pendapatan atau net revenue Tokopedia cuma sekitar 10% dari BLIBLI.

Kenapa bisa setimpang itu ya? padahal mungkin kita lebih sering mendengar Tokopedia di beragam berita dibanding BLIBLI, tapi kenapa secara pendapatan bersih bisa berbeda sekali?

Model Bisnis

Satu hal yang mungkin temen temen perlu tau, bahwa walaupun di laporan keuangan atau financial report-nya itu disebutnya Net Revenue tapi cara mendapatkan uangnya itu berbeda antara keduanya.

Tokopedia dan BLIBLI memiliki perbedaan dalam revenue stream yang akhirnya kalau dilihat secara angka, sangat signifikan ya?

Tokopedia itu mengaplikasikan model bisnis online marketplace, yang mana secara konsep yaitu C2C atau Consumer to consumer.

Sedangkan BLIBLI memiliki 2 kategori model bisnis, yaitu B2C yang akhirnya disebut sebagai 1P (First party) dan C2C, sama seperti Tokopedia yang kemudian disebut sebagai 3P atau Third Party.

— “Kalau C2C, terus platform (Tokopedia dan 3P BLIBLI) dapat uang dari mana? kan mereka ga jualan produk?”

Bagus pertanyaannya.

Mereka mendapatkan keuntungan dari Service Fee atau biaya layanan.

Biaya layanan di sini maksudnya apa? ya banyak ya, misal : biaya potongan per transaksi, biaya membership, biaya iklan, dsb.

Mereka tidak menjual produk secara langsung ke customer, tapi hanya “menjual” fasilitas untuk kebutuhan penjual dan pembeli.

Itu tadi C2C.

Nah kalau B2C atau Business to Customer yang BLIBLI juga punya, atau yang mereka sebut 1P atau First Party ini berbeda dengan C2C.

BLIBLI sebagai entitas bisnis, menjual produk langsung ke consumer atau ke buyer. Kaya toko aja lagi jualan.

Dapet uangnya dari mana? tentunya dari margin, kan?

Nah dari sini keliatan ya bedanya? kenapa bisa jomplang banget revenue mereka?

Struktur Revenue

Keliatan ya bedanya C2C dan B2C tadi?

C2C cuma ambil komisi, sedangkan B2C itu jualan produk.

Plus, karena yang dihitung adalah pendapatan, maka B2C di atas kertas tentu akan jauh lebih tinggi.

Ibaratnya gini, misalnya temen temen punya toko atau warung.

Kemudian saya produsen risol, dan saya titip di warung temen temen, per risol terjual seharga IDR3000, temen temen dapet komisi IDR1000.

Nah, temen temen mencatat IDR1000 tadi sebagai pendapatan, karena kita ga punya produk, cuma bantu jualin aja.

Sedangkan kalau temen temen punya toko, dan goreng risol sendiri, kemudian dijual senilai IDR3000, berarti IDR3000 itu ya pendapatan temen temen, karena memang kita jualan produk.

Walaupun nilainya sama sama IDR3000, dan, let’s say, marginnya sama -sama IDR1000 atau 30%, secara struktur laporan tetap berbeda.

Yang skema “titip” tadi net revenue-nya IDR1000, sedangkan yang produksi sendiri itu IDR3000.

Tokopedia mencatat komisi transaksi atau Transaction Fee, sedangkan BLIBLI, selain mencatat hal yang sama di segmen 3P, juga mencatat pendapatan dari jualan produk sendiri di segmen 1P.

Paham ya bedanya?

Ga Appple-to-apple?

“Berarti beda dong wil antara BLIBLI dan Tokopedia revenue-nya?”

Bener, malah terlihat ga apple to apple ya?

Bahkan 3P-nya BLIBLI itu masih ada kontribusi dari OTA atau perusahaan grupnya yaitu Tiketdotcom.

Makin ga bisa dikomparasi ya?

Tokopedia mencatatat biaya layanan, 3P-nya BLIBLI mencatat biaya layanan plus OTA karena dianggap juga pihak ketiga oleh perusahaan.

“Wajar dong wil angkanya lebih besar BLIBLI dibanding Tokopedia?”

Bener. memang pada akhirnya yang muncul di laporan keuangan lah yang dilihat sebagai tolok ukur performa.

Jadi kalau kita lihat dari angkanya, dengan menjadikan 3P dari BLIBLI sebagai pembanding, maka hasilnya menarik :

  • Tokopedia mencatat IDR288 Miliar per 1Q 2026
  • sedangkan BLIBLI mencatat IDR384 Miliar per 1Q 2026

Tetap masih lebih tinggi BLIBLI ya, sayangnya ga ada detail yang dipisah antara 3P dengan OTA, jadi mungkin data itu yang sementara bisa kita pakai.

Fokus Bisnis

Seperti yang tadi dijelaskan, perbedaan model bisnis ini menentukan fokus perusahaan mau kemana.

Kalau Tokopedia hanya fokus pada C2C, BLIBLI itu memang punya sudut pandang lain.

Dia justru fokus mendorong penjualan dari retail online 1P, karena dianggap margin-nya lebih sehat dibandingkan 3P.

Jadi wajar kalau net revenue-nya 1P dari BLIBLI itu sampai 2x lipat dari 3P-nya.

Kalau 3P nya di 300 Miliar, 1P nya ada di 1500 Miliar atau 1,5 Trilliun Rupiah.

Dilihat dari Take Rate-nya memang yang 1P ini bahkan sampai di 24% sedangkan yang 3P hanya di sekitar 5%.

Jadi memang fokus BLIBLI untuk mengejar profitabilitas dengan memperlebar margin atau fokus ke produk produk yang high-margin sepertinya sudah tepat, yaitu di channel 1P.

Tokopedia sebetulnya, pernah menempuh cara cara untuk memperlebar margin mereka dengan cara bekerja sama dengan Brand besar untuk membuat official store, namun ya, lagi, mereka tidak mengambil margin, hanya fokus pada biaya layanan saja.

Jadi..

Kalau dilihat secara angka, di awal kita melihat ketimpangan yang cukup signifikan, saat Tokopedia mendapatkan IDR288 Miliar, BLIBLI dari channel retail online-nya mendapatkan IDR2,6 Trilliun.

Namun ternyata BLIBLI menggabungkan channel 1P dengan 3P, lagi, kalau kita compare antara Tokopedia dengan 3P-BLIBLI, Tokopedia mencatatkan IDR 288 Miliar sedangkan 3P BLIBLI mencatatkan IDR384 Miliar.

Kalauu kita breakdown lagi, 3P BLIBLI itu juga termasuk OTA atau penjualan tiket melalui perusahaan grupp mereka yaitu Tiketdotcom, jadi angka IDR384 Miliar itu rasanya masih kurang fair kalau dibandingkan.

Kenapa begitu?

Karena perbedaan fokus bisnis antara BLIBLI dengan Tokopedia, BLIBLI mengejar profitabilitas melalui fokus ke produk dengan margin yang lebih lebar, sedangkan Tokopedia mungkin melalui tingkat transaksi, hal ini terbukti dari pertumbuhan angka dari Tokopedia di 1Q 2025 yang mencatatkan revenue sebesar IDR217 miliar, dan di 2026 mencatatkan 288 Miliar.

Jadi kenapa lebih cuan, lebih karena fokus masing masing perusahaan berbeda tujuan.

“Wil, kenapa ga bandingin Shopee?”

Nah ini menarik, saya cari sih ga ada data Shopee Indonesia, adanya Shopee keseluruhan, jadi kayanya datanya kurang representatif.

Yaa semoga kedepannya ada akses data yang lebih mudah, sehingga bisa jadi pembelajaran untuk kita semua.

Itu aja episode hari ini.

Terima kasih sudah mengikuti podcast ini, dan jangan lupa share kalau sekiranya menurut teman teman episode ini bermanfaat.

Sampai jumpa di episode selanjutnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Scroll to Top