Banyak brand besar yang belakangan mengumumkan keluar dari Marketplace dan mulai membangun entitas bisnisnya sendiri.
Karena mungkin ga sanggup dengan potongan dari marketplace yang sepertinya semakin menggerus margin.
Beberapa mungkin juga ingin memulai, tapi mungkin ga ada bayangan bagaimana harus mengawalinya.
Ada yang mungkin langsung dialihkan ke WhatsApp, atau ada juga yang langsung beriklan ke sosial media, akhirnya bingung dengan alur bisnisnya, dan hasilnya ga maskimal.
Halo, saya Willy Pujo Hidayat, Di episode spesial ke-50 dari Commercesation ini, saya ingin membagikan 5 tahapan yang benar untuk temen temen yang ingin membangun entitas toko online-nya sendiri.
Website Sebagai Entitas Bisnis
Era digitalisasi sudah memasuki level yang mungkin semua orang ga nyangka bisa sampai secepat ini.
Ya, lagi lagi thanks to covid ya yang udah mengakselerasi transformasi belanja online, sehingga orang orang, termasuk teman teman mungkin sudah terbiasa berinteraksi lebih dalam dengan website atau aplikasi.
Apalasi sekarang udah ada AI, dimana diprediksi kedepannya itu, orang orang belanja langsung dari AI.
Jadi mereka tanya ke AI, minta rekomendasi, dan bahkan minta dibeliin barangnya.
Contoh paling advance-nya itu adalah Alexa di Amazon Echo, yang ga cuma bisa kita suruh suruh untuk melakukan small task, tapi di level ini Alexa bisa sampai menerima perintah suara untuk berbelanja di Amazon.
Kalau kedepannya akan AI ini akan semakin, let’s say—native, maka kepemilikan website ini akan menjadi sebuah keharusan.
Kenapa? Karena AI akan merayapi semua hal di internet, termasuk website toko online teman teman.
Bahkan beberapa bisnis itu mengubah nama brand-nya agar lebih mudah diucapkan oleh manusia dan dimengerti oleh AI.
Udah jarang banget kita liat brand yang menggunakan perpaduan angka dan huruf, atau yang susah dilafalkan hatau pake tanda baca seperti at “@” atau hashtag pagar “#” gitu, biar lebih mudah dimengerti oleh AI.
Jadi, kepemilikan website, dalam strategi jangka panjang (long term) menjadi hal yang wajib untuk teman teman pertimbangkan.
Mereka yang keluar dari Marketplace
Kalau mungkin di Indonesia ini baru belakangan ini aja ada fenomena brand keluar dari Marketplace karena biaya admin yang semakin menggerus margin, di Amerika hal ini sudah pernah heboh sebelumnya.
Sekitar tahun 2019, brand sebesar NIKE, itu memutuskan untuk keluar dari raksasa toko online, Amazon.
Alasannya karena mereka mau fokus menjual langsung ke end user tanpa harus melalui pihak ketiga seperti Amazon.
Alasannya lebih idealis sih ya, bukan karena nunggu tercekik biaya admin yang tinggi 😀.
Yaaa walaupun akhirnya ada isu belakangan ini mereka balik lagi ke Amazon, tapi tindakan NIKE pada saat itu cukup banyak yang mengapresiasi.
Wajar kalau NIKE pede banget waktu itu, namanya brand besar, udah top of mind, punya website yang proper dan punya basis pengguna yang cukup loyal.
Nah, kalau pebisnis kaya kita yang mungkin belum sebesar NIKE, modal terbatas ye kan? 😀 cd dftapi mau berusaha mandiri untuk keluar dari marketplace dan membangung entitasnya sendiri, ini 5 tahapannya.
Tahapan ini, kalau saya boleh sarankan, temen temen melakukannya sesuai dengan urutan ya, jangan paralel atau bypass, jadi pelan pelan, satu satu.
Kita mulai dari yang pertama.
#1 Niche
Kalau dengar brand sebesar NIKE, kira kira apa yang ada di pikiran kita?
Ga jauh jauh, pasti sports appareal seperti sepatu olahraga, sepatu lari kalcer, kaos, dsb.
Mungkin ga NIKE jualan monitor gitu? atau jualan mobil listrik? 😀
Meskipun mungkin lagi cuan-cuannya tuh barang, tetep mereka mau jadi top of mind untuk produk sports.
Jadi, tahap pertama membangun toko online bukan langsung cari domain atau website, tapi Tentukan Niche.
Udah ga bisa lagi temen temen palugada ya, apa aja ada. Ga bisa!
Fokus, mau kemana arahnya, temen temen mau diingat sebagai brand atau toko yang kuat di supply produk apa. Penting banget.
“Apakah artinya saya harus punya produk sendiri, wil?”
Ga juga.
Temen temen bisa fokus menjadi retail untuk produk dengan kategori tertentu, kaya yang saya contohin di episode sebelumnya tentang Sociolla.
Sociolla ga punya produk sendiri, mereka menjadi “titik temu” dari brand brand kosmetik dan skincare besar, dan menjadi corong atau channel distribusi.
Paham ya? pokoknya fokus ke satu hal aja.
Tau ga ciri kalau teman teman udah punay niche atau belum?
Caranya sederhana, yaitu teman teman sudah bisa memetakan siapa Kompetitor.
Kalau temen temen udah tau siapa kompetitor kalian, berarti udah tau niche-nya kemana.
Kalau temen temen ga tau siapa kompetitornya, berarti temen temen belum bisa mengenal bisnis temen temen dengan sangat baik.
Paham?
Udah ditentukan niche-nya?
Ga palugada lagi?
Oke sekarang kita ke tahapan kedua.
#2 Cari Supplier
Setelah temen temen tau fokusnya kemana, sekarang kita perlu cari supplier utamanya, alias “Tangan Pertama”.
Kalau temen temen mau fokus jualan parfum, silakan kerjasama dengan brand brand parfum yang bisa temen temen temui.
Bisa dari brand besar misalnya, atau yang mungkin belum terlalu besar tapi viral, atau bahkan ke tukang parfum eceran yang kualitasnya bagus. Cari pokoknya.
Hubungi mereka dengan baik, kontak via DM atau WhatsApp, atau email, ajukan diri untuk izin menjual langsung produk mereka.
Diskusikan beberapa hal, misal :
- Ada MOQ (Minimum Order Quantity) ga kalau mau ambil langsung?
- Kalau mau dropship apakah memungkinkan? Bagaimana mekanismenya?
- Apakah ada diskon khusus?
- Apakah mungkin perlu biaya komitmen?
- Lead time-nya berapa lama dari kita pesan sampai dikirim?
- Apakah bisa sistem pembayaran tempo atau paralel?
- Ada retur ga? misalnya untuk produk sepatu atau pakaian yang salah ukuran atau parfum yang pecah atau defect?
Tanyain semua detail ke mereka.
Seharusnya sih mereka senang ya kalau ada yang mau bantu jual produknya, asal win-win aja, jangan sampe mereka merasa “dimanfaatkan” 😀 atau sebaliknya kita yang merasa “diakalin” sama brand.
“Wil, kalau mereka ga mau kasih diskon gimana?”
Tidak ada opsi lain selain markup.
Temen temen bisa markup dari harga retail mereka, misalnya 20-30%.
“Lah mereka beli sendiri di website si brand bisa lebih murah dong dari kita?”
Betul.
Itu resiko menjadi retailer, apalagi online, harganya terbuka, jadi mereka bisa dengan mudah melakukan riset harga.
Sebagai pebisnis, selain niche, temen temen bisa mempertimbangkan untuk memberikan added value atau nilai tambah.
Agak susah sih emang kalau brand-nya juga besar ya, pasti mereka menawarkan value yang lebih dari apa yang bisa kita tawarkan.
Saya punya ide, tapi agak sedikit ekstrem dan mengorbankan margin.
Tapi kalau buat softlaunch kayanya bisaaa laah. buat promo gratis ongkir untuk daerah Jakarta misalnya.
Harusnya sudah cukup menarik sebagai tambahan value yang bisa kita berikan ke customer.
ngomong-ngomong, tahapan ini sebetulnya bisa di-skip kalau memang temen temen sudah jualan sejak lama dan tau tangan pertamanya siapa ya.
Apalagi kalau memang punya brand sendiri, ya bagian ini bisa di-skip.
Kita lanjut ke tahap ke-3
#3 Membuat Website
Niche sudah ditentukan, produk udah tau harus ambil darimana, sekarang kita eksekusi ke hal yang lebih teknikal.
Apa itu?
Yak betul, membuat website toko online kita sendiri.
Ini kan yang ditunggu tunggu? 😀
Ga. saya ga akan ngajarin temen temen pake AI kaya ChatGPT atau Emergent untuk buat website, terlalu teknis banget.
Ada 2 opsi yang bisa saya tawarkan :
- Shopify
- YukBisnis
Udah dua itu aja dulu, kalau nantinya temen temen bisa punya yang lebih lengkap atau yang lebih murah, lebih canggih, dsb silakan, tapi fokus ke 2 ini dulu aja.
Kalau saya prefer ke YukBisnis dulu aja, sangat ramah UMKM.
Silakan kunjungi pro(dot)yukbisnis(dot)com atau ke Yukbisnis(dot)com, dan pilih produk YubiPro.
Ga usah banyak cingcong, langsung aja signup, daftar. ada Free 7 hari, pakai dan maksimalkan sebaik mungkin.
“domain gimana wil?”
Nah, bisa amankan dulu domainnya, beli dimana aja bisa.
Setau saya nanti bisa dipasangkan di YubiPro tadi.
Bangun websitenya selengkap dan semaksimal mungkin.
- Produknya dibuat yang rapi strukturnya :
- Kategori produk
- Brand
- Tags
- dsb
- Pasang foto yang bagus—Pake AI, manfaatkan untuk gambar yang bagusnya gimana.
- Minta foto produk aslinya ke supplier atau vendor tadi.
- Detail semua foto yang jelas, kalau sepatu atau baju ada panduan ukurannya, bagaimana jahitannya, dsb.
- Judul produk pilih yang simpel tapi representatif, udah ga pake SEO jadul “jual parfum xxx” atau “promo parfum xxx” ga usah, tulis aja judul yang baik.
- Kalau misalnya ada varian, tulis di opsi variannya dengan lengkap.
- Pasang harga coret supaya lebih menarik.
- Pilih kurir yang terjangkau dari toko temen temen, jangan pake yang aneh aneh kalo sekitar rumah atau toko ga ada.
- Kalau bisa buat banner, pake aja AI, buat banner yang bagus dengan ukuran yang udah disesuaikan sebelumnya.
Pokoknya buat semantap mungkin.
Ga perlu buru buru, tapi juga jangan terlalu nyantai, nanti malah sayang biaya langganannya.
Pastikan semua checklist untuk membangun website toko online sudah tercentang dengan baik ya.
Tahapan ini membutuhkan waktu yang lumayan banyak, jadi saran saya jangan langsung hajar banyak produk, cukup fokus ke kategori produk yang memang ditarget saja.
Sedikit produk, tapi maksimal.
Setelah semua sudah ok, sekarang kita cek apakah website kita sudah siap dibanjiri customer atau belum.
Caranya taunya gimana?
Kita ke nomor 4
#4 Operasional
Mungkin kita merasa website kita udah siap banget ini launch, desain udah OK, foto produk udah bagus, harga udah menarik, kayanya siap.
Nah, kadang perasaan itu harus divalidasi.
Caranya gimana?
Dengan melakukan percobaan membeli produk sendiri di website.
Coba buka website sendiri, dan belanja sendiri di sana, pastikan alurnya sudah sesuai.
Alur di sini bukan cuma alur website dari mulai masuk halaman produk, keranjang, checkout dan bayar ya, tapi dipastikan sampai terkirim.
Istilahnya namanya Workflow atau alur kerja, dari customer selesai melakukan pembayaran, sampai pesanannya sampai di tangan customer.
Kita bedah pelan pelan ya :
- Kesiapan website
Temen temen bisa coba belanja sendiri di website sendiri, kalau saya biasanya coba upload produk dummy, yang harganya murah untuk saya beli sendiri.
Coba klik produknya, tambah ke keranjang, checkout, sampai payment. Dicoba semua step, pastikan mulus, ga ada bugs atau loading yang lemot.
Karena loading yang lama ini bisa bikin customer berubah pikiran, jadi harus cepat karena kita berpacu dengan waktu.
Jadi pastikan semua prosesnya mulus, seamless tanpa gangguan, pastikan opsi pembayarannya aktif semua, pilihan pengiriman juga tersedia, dsb.
Kalau ada gangguan, coba kontak tim YukBisnis, mereka supportif banget kok.
- Kesiapan produk
Yang kedua pastikan produk yang dijual itu sudah siap ya.
Di poin dua tadi udah kita bahas, gimana mekanismenya, kita stok, dropship atau by order, dsb.
Sama seperti website, proses ini juga harus mulus dan (ya tergantung jenis bisnisnya sih) kalau B2C atau D2C ini memang wajib yang namanya cepat.
Semakin kesini, ekspektasi orang terkait belanja online itu semakin cepat, kalau bisa 10 menit habis order sudah dateng tuh barang 😀.
Jangan sampai pas customer udah bayar, ternyata barangnya belum siap.
Dan bukan cuma barangnya yang siap, tapi juga kardus packing-nya yang juga perlu dipersiapkan.
Dipikirkan mau pake apa, apakah pakai bubble wrap, apakah pakai kardus custom, mau kardus yang keras atau yang standard, dsb. Jangan sampai barang kita rusak di jalan, itu akan membuat experience customer kurang menyenangkan.
- Kesiapan tools
Selain website, teman teman perlu memastikan tools lain yang dibutuhkan juga sudah siap, misalnya :
- Nomor WhatsApp khusus bisnis (ga usah pake yang WhatsApp API dulu, WA bisnis cukup)
- CRM (Customer Relationship Management) kalau diperlukan, kalau ga salah CRM di YukBisnis udah ada ya, kalau belum temen temen perlu cek ketersediaan CRM.
Apaan tuh CRM, jadi seperti list pesanan, atau log, catetan, pesanan ini udah sampai mana, sudah disiapkan atau belum, sudah diproses atau belum, atau bahkan sudah dikirim atau belum, dsb.
Supaya ga ada yang terlewat.
- Automation – Ini opsional sih, biasanya kalau platform nya udah support email marketing, maka kita tinggal siapkan template-nya aja, misal :
- “Terima kasih sudah memesan”
- “Pesanan kamu sedang diproses”
- dsb
Kalau sekiranya semua sudah OK menurut temen temen, coba misalkan ajak teman atau saudara untuk coba belanja di website kita, kita cek apa yang kurang.
Kalau semua sudah OK, sekarang waktunya kita gas.
#5 Marketing
Naaahh ini dia puncaknya.
Saat semua sudah OK, baru kita mulai bersiap untuk beriklan.
“Kenapa ga ngiklan dulu aja wil? operasional mah bisa sambil jalan”
Ya lagi, mazhab bisnis emang beda beda, ada yang hajar dulu sambil belajar.
Kalau sepengalaman saya, mending disiapkan dulu semuanya, baru kita ngiklan.
Supaya ga kaget nanti kalau ada pesanan. Ga dar der dor.
Gimana kalau misalnya campaign kita lagi gacor, sehari bisa 10 orderan, kalau ga ada flow-nya, bisa kacau semua itu ya.
Yang ada kita malah diomelin customer karena lama, atau ga sesuai ekspektasi mereka 😀
“Wil, worst casenya, kalau kita udah siap semua, tapi ga laku gimana wil? kan sayang”
Nah ini. Ada satu tahap krusial sebetulnya sebelum temen temen melakukan serangkaian tahapan panjang ini, tapi ga mungkin saya bahas di sini, karena kepanjangan, istilahnya yaitu “Product-Market Fit”
Jadi produk yang temen temen mau jual, harus cocok dengan customer yang kita target.
Itu kita bahas di episode lain ya.
Sekarang kita fokus ke tahapan ke-5, yaitu marketing.
Sebelum kita masuk ke dashboard periklanan, baik itu Meta ads (Facebook dan Instagram), atau TikTok Ads, atau Google ads, dsb kita perlu mempersiapkan beberapa hal.
Saya coba buat poin poin biar temen temen ada panduannya ya.
- Cookies/Tracker/Pelacakan
Pastikan di website temen temen sistem pelacakannya sudah terpasang dengan baik.
Biasanya platform seperti Shopify, termasuk YukBisnis juga menyediakan fitur khusus untuk melakukan pelacakan performa iklan.
Jadi teman teman bisa masuk ke dashboard Meta, TikTok dan Google Ads untuk mendapatkan kode dan memasangnya di website.
“Kenapa harus pake pelacakan wil?”
Mudahnya gini, pelacakan itu untuk kita memonitor apakah campaign marketing kita berjalan sesuai dengan yang kita harapkan atau tidak.
Bagi platform, itu cara mereka untuk “belajar” tujuan campaign yang kita maksud, jadi kaya “Oh begini goal campaign yang kamu mau toh, ok saya maksimalin ya”
Jangan sampai kita mau orang orang dengan kriteria A untuk menonton video kita, malah kriteria B yang nonton dan akhirnya ga nyambung sama produk.
Jadi cookies atau pelacakan ini bisa dibilang sangat penting dan ini salah satu kelebihan digital marketing dengan marketing tradisional atau analog marketing.
Kalau sudah terpasang, kita lanjut ke persiapan kedua.
- Angle Produk
Buat daftar angle produk yang temen temen mau sajikan ke calon audience, buat list sebanyak mungkin, misal temen temen jualan parfum, kita coba buat angle-nya ya :
- Parfum yang orangnya udah lewat tapi wanginya ketinggalan
- Parfum yang segar dan mewah, harganya sama dengan parfum minimarket
- Dibuat khusus, jadi keringetan habis nge-gym tapi seger dan wanginya tetap stay
- dsb
Kalau udah buat angle marketing yang bagus bagus, tinggal buat kontennya.
Konten bisa foto atau video.
Kalau saya bilang, dalam marketing itu, konten itu udah menjadi tulang punggung.
Kalau iklan kita minim interaksi biasanya memang kontennya yang kurang menarik, jadi bagian ini perlu dibuat banyak sekali eksperimen dari angle yang berbeda.
OK?
Pelacakan dan konten udah, sekarang kita ke bagian terakhir dari marketing, yaitu sabar. 😀
Serius. Apalagi brand baru! wajib banget yang namanya sabar.
Selain sabar modal hangus untuk beriklan (untuk eksperimen), sabar juga untuk melihat hasil dan mengulik atau uji coba (A/B Testing) semua variable iklan, seperti :
- Kriteria audience
- Kesesuaian objektif marketing
- Kesesuaian konten
- dsb
Susah banget bagi temen temen untuk pertama kali beriklan dan langsung sukses, bisa saya bilang cukup susah.
Temen temen butuh waktu untuk eksperimen, mix and match antara beberapa variable tadi sampai ketemu formulanya sendiri.
Kalau udah ketemu formulanya, dievaluasi, misal :
- Oh hari ini udah OK nih, yang chat ke WA banyak, tapi kebanyakan masih nanya pertanyaan basic → Berarti konten dan landing page-nya kurang informatif.
- Ada yang chat, tapi belum ada yang beli → mungkin penawarannya kurang menarik.
- Dari 100 orang yang chat, cuma 10 yang beli → oh itu bisa jadi sales funnel-nya atau belum ada strategi untuk meningkatkan penawarannya.
- dsb
Jadi di-evaluasi terus, ga akan pernah berhenti.
OK?
Udah kepanjangan ini video ya, mentang mentang episode spesial ke-50 😀
…
Terima kasih sudah mengikuti podcast ini sampai episode ke-50.
Saya apresiasi setinggi-tingginya untuk teman teman yang setia mendengarkan podcast ini.
Sekarang semua transkrip podcast bisa diakses di website kami di commercesation(dot)com, bisa cek ke sana dan baca aja transkripnya.
Jangan lupa follow, komen dan bagikan episode ini sekiranya bermanfaat untuk teman teman semua.
Terima kasih banyak atas supportnya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
